Menu

Mode Gelap
Pejabat Dinas Pendidikan Sumsel Jadi Tersangka, Ini Kasusnya 5 Tersangka Segera Diadili Dalam Kasus Korupsi BTS Kominfo Rp 8 Triliun Gayus Lumbuun Mantan Hakim Agung Pertanyakan Gugatan Kewenangan Jaksa Selidiki Korupsi

Opini · 8 Apr 2024 20:00 WIB

Tikus-Tikus Berdasi, Dinegeri Lucu Para Koruptor

 Tikus-Tikus Berdasi, Dinegeri Lucu Para Koruptor Perbesar

Koruptor.id (Bantaeng) : Sebuah negeri yang tak asing bagi dunia, di kenal dengan berbagai kekayaan dimilikinya. Selain tambang dan kekayaan lautnya terdapat pula rempah-rempah hasil pertanian yang menghiasi alamnya, maka wajar jika Sejak dulu di lirik oleh banyak bangsa dan negara lain, mereka datang untuk berdagang namun kenyataannya ingin menguasai hasil kebun dan kekayaan lain rakyat nusantara, disinilah awal mula terjadinya penjajahan selama 350 tahun dan din proklamasikan kemerdekaannya pada 17 agustus 1945. mulailah di bentuk dan di atur  bahwa bumi air serta kekayaan yang terkandung di dalamnya di kuasai oleh negara dan di pergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Emas, tembaga, timah, uranium serta batubara dan bahan meneral lainnya milik rakyat dan di kuasakan pada negara agar ada kesejahteraan merata bagi segenap warganya. Entah kecolongan atau tidak, sekedar nama atau bukan keberadaan emas permatanya tak begitu di rasakan manfaatnya, selain manajemen pengelolaannya yang kurang profesional banyak tikus berkeliaran di sekitarnya. Selain yang telah di sebutkan ada kekayaan lain berupa Tanah luas subur menghijau membentang mengikuti arus khatulistiwa  menghias nusantara, mengukir panorama alam yang indah, memanjakan mata bagi yang memandangnya, tersimpul dalam keaneka ragaman hayati yang mempesona menambah semarak keindahan alamnya itulah Indonesiaku, negeri tercinta tanah tumpah darahku.

Menyebut itu semuat, muncul persepsi akan kemakmuran rakyatnya dan kesejahteraan bangsanya, itu tidaklah keliru mengingat kekayaan yang dimiliki merupakan sebuah fakta yang tersebar dari sabang sampai merauke, Tapi Eeeeeit tunggu dulu… Dibalik kekayaan yang melimpah, tanah luas subur nan permai, kenyataannya banyak rakyat yang miskin tak cukup pangan, sandang dan papan,  ribuan anak putus sekolah.Coba di lihat berapa persen anak dari keluarga miskin yang menjadi Dokter, berapa persen anak kurang mampu menjadi arsitek, akuntan, ekonom dan lain sebagainya, Mereka gagal meraih impian karena faktor ekonomi yang kurang menguntungkan di banding seorang anak konglomerat??  kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi, hak kesehatan yang tak terjangkau menambah rumitnya menggapai cita-cita. Luas laut nan indah terhampar biru memukau mata tetapi rakyat kurang protein karena jarang makan ikan, kurang nutrisi karena minim komsumsi sari laut sebagai penunjang kecerdasan otak menjadikan Intelligent Quotient (IQ) anak indonesia rendah, semua itu di akibatkan salah urusnya negara dan berkembang biaknya tikus berdasi di bergai lumbung tambang dan ruang-ruang birokrasi.

Terpampang sebuah destinasi di hadapan mata yang seyogyanya menghibur hati tetapi malah mengundang tangis dan rintih yang sayup terdengar mengiris qalbu ibu pertiwi, bersedih melihat banyaknya tikus yang dari dulu tak mempan di berantas dengan pestisida yang ada. Rangkaian fenomena tersebut sesuai dengan lagu ciptaan Ismail Marsuki yang mengatakan, Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati, airmatanya berlinang mas intannya terkenang. Hutan gunung sawah lautan simpanan kekayaan, kini ibu sedang lara, merintih dan berdoa. Kulihat ibu pertiwi kami datang berbakti lihatlah putra-putrimu menggembirakan ibu. Ibu kami tetap cinta putramu yang setia menjaga harta pusaka untuk nusa dan bangsa. Begitulah lirik sedih ibu pertiwi menyaksikan realita yang terjadi.

Kekayaan yang ada tak dirasakan manfaatnya sebagian besar rakyat sekitar sebagai pemilik hak dan kuasa, keindahan tak sepenuhnya dapat di nikmati oleh rakyat yang memandangnya, rakyat hidup kekurangan membuat harapannya kandas tak kesampaian, populasi pengangguran yang kian meningkat tahunnya. Keindahan yang ada hanya merupakan fatamorgana, keberadaannya hanya ilstrasi dan seolah-olah, namun faktanya berkata lain, itulah kita, yang tinggal di negeri serba ada, kata syair para pujangga, ulah mereka yang rakus dan serakah mengeruk isi perut ibu pertiwi, mengeluarkan kandungannya walau cara lewat caesar. Yang serakah memaksa merebutnya, yang rakus melakukan berbagai cara mendapatkannya. Ladang subur nusantara di obrak abrik, hutan gunungpun tak luput mereka gunduli pembalakan liar tak kenal tempat, mengakibatkan mata air mengering berubah linangan air mata membasahi pipi. mengancam jiwa-jiwa tak berdosa anak negeri

Tambang milik rakyat mereka gusur, tanah warga mereka kuasai. aneka pabrik yang memproduksi polusi marak berdiri, bagai jamur yang tumbuh di musim hujan, menghasilkan pencemaran uadara yang meningkat setiap harinya menimbulkan penurunan fungsi paru-paru, asma dan kanker membatasi rakyat untuk hidup sehat dan sejahterah. Seiring fenomena berlangsung, muncul pula tikus-tikus berdasi di segala penjuru sektor, menambah semrawutnya tatanan birokarsi, hama tersebut berkeliaran di berbagai lembaga dan bersarang di beragam tempat institusi menggorogoti simpanan kekayaan yang di singgung ibu pertiwi.

Tikus-tikus berdasi berkembang subur tak ada kapok, keampuhan pestisidapun di pertanyakan banyak pihak namun tak banyak solusi yang di lakukan membuat hama-hama menari dan berpesta pora berada dalam lumbung tak mempunyai banyak perangkap yang bisa menjerat diri dalam menjalankan aksinya. Negeri yang ramah bagi seekor tikus berdasi yang menilap ratusan milyar bahkan trilyunan namun cukup biaya tujuh turunan setelah bebas, ha ha ha ha ha ha  tikus berdasi penggerek akar bangsa mengancam keberlangsungan hidup makhluknya, mengacak-acak harta negara yang disusun rapi, mereka memanipulasi suasana untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Pestisidah yang di berikan tak mempan membuat efek jera, bahkan kian menggila ketika di bebaskan dari perangkap. Hama tikus kerap diawali saat di lakukannya pemilihan penggiat aspirasi, mengimini rakyat dengan umpan sesaat dan terjerembabnya sang penata yang di awali dengan sogokan uang pelicin.

Untuk mengakhiri polemik yang tak berkesudahan, perlu perstisida khusus untuk menekan tumbuhnya populasi hama perusak bangsa, perampasan aset tikus-tikus berdasi merupakan sesuatu yang utama, agar pemilik bumi air dan kekayaan yang di kuasakan tidak semena-mena diselewengkan dan disalah gunakan, sehingga manfaatnya mampu di rasakan oleh rakyat semesta. Sektor penjaga amanahpun butuh penyeleksian secara terbuka dan terpercaya untuk meminimalisir munculnya hama baru yang lebih parah menghancurkan peradaban bangsa,. Jangan pernah berharap Indonesia emas tahun 2045 yang diwacanakan pemerintah akan sukses, selama tikus-tikus berdasi masih bebas berkeliaran mengoyak dan mempreteli aset bangsa,  segera lakukan pemberantasan sejak dini melalui pungisida, insektisida dan pestisida untuk membasmi hama-hama penggerek batang tubuh kebangsaan.

Penetapan rancangan undang-undang perampasan aset adalah solusi harus segera di sahkan untuk menjadi pestisida ampuh dalam mencegah berkembang biaknya tikus-tikus berikutnya, setelah banyak cara sebelumnya yang di tempu namun gagal dalam mengurangi apalagi mengakhiri. Setiap tahunnya di lakukan pemotongan masa tahanan dengan dalih berkelakuan baik selama dalam perangkap, jika tikus sudah lebih cerdas dari sang kucing maka kiamat bangsa akan terjadi. ha..ha..ha..ha..ha..

Follow WhatsApp Channel Koruptor.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 89 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Potret Kemiskinan, Di Tengah Kepungan Para Koruptor

2 April 2024 - 22:05 WIB

Akibat Ulah Kaum Koruptor, Pendidikan Dan Ekonomi Tersadra, Siapa Yang Jadi Korban…???

31 Maret 2024 - 23:58 WIB

Rapat Musyawarah Nasional Parade Nusantara.Melahirkan Ketua DPD Kabupaten Bekasi

13 September 2023 - 13:40 WIB

Korupsi Adalah keserakahan Dan Pengkhianatan

6 Juni 2023 - 00:26 WIB

Trending di Opini