Menu

Mode Gelap
DPD IKADIN Lampung Borong Dua Penghargaan  Pejabat Dinas Pendidikan Sumsel Jadi Tersangka, Ini Kasusnya 5 Tersangka Segera Diadili Dalam Kasus Korupsi BTS Kominfo Rp 8 Triliun Gayus Lumbuun Mantan Hakim Agung Pertanyakan Gugatan Kewenangan Jaksa Selidiki Korupsi

Opini · 29 Mei 2025 02:47 WIB

Di Atas Pusara Keadilan, Nurani Masih Bernyanyi

 Di Atas Pusara Keadilan, Nurani Masih Bernyanyi Perbesar

Oleh: Rochendry, S.H.

Bersuara untuk yang dibungkam, berdiri untuk yang dijatuhkan, sebab diam adalah pengkhianatan, dan keadilan hanya hidup di dada mereka yang rela terbakar demi kebenaran.”

Kutipan ini bukan sekadar barisan kata, melainkan gema nurani yang memanggil setiap insan untuk tidak berpaling dari tanggung jawab moral. Di tengah riuh rendah kehidupan berbangsa yang kerap membisukan jerit kaum lemah, suara yang jujur dan sikap yang adil menjadi kebutuhan mendesak dalam ruang demokrasi yang sehat.

Masih kita jumpai, dalam praktik bernegara, banyak yang terbungkam oleh sistem, tertindas oleh kebijakan, atau terabaikan oleh arus kepentingan. Namun, yang lebih menyedihkan adalah ketika sebagian masyarakat justru memilih diam—bukan karena tidak tahu, melainkan karena merasa aman. Padahal, ketika ketidakadilan berlangsung secara terang-terangan, diam bukanlah posisi netral. Ia adalah bentuk pembiaran, bahkan kolusi pasif, yang memperpanjang penderitaan.

Opini ini tidak mengajak untuk marah, tetapi untuk sadar. Sadar bahwa suara yang kita miliki—baik melalui tulisan, tindakan, maupun advokasi—adalah bagian dari denyut keadilan itu sendiri. Ketika seseorang bersuara untuk yang dibungkam, ia sedang memberi ruang hidup bagi kemanusiaan. Ketika seseorang berdiri untuk yang dijatuhkan, ia sedang mengangkat derajat sesama manusia.

Keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk heroisme yang gegap gempita. Ia bisa muncul dalam bentuk lembut namun teguh: sebuah laporan jurnalis yang jujur, pendampingan hukum yang berkeadilan, atau kritik kebijakan yang membangun. Semua itu adalah ekspresi keberanian moral yang menjunjung tinggi martabat manusia. Sebab keadilan bukan hanya milik hakim atau penguasa, tetapi milik semua warga negara—yang percaya bahwa kebenaran layak diperjuangkan, bukan dibiarkan mengendap dalam sunyi.

Dalam konteks ini, diam adalah bentuk pengingkaran terhadap amanah sosial. Ia melemahkan solidaritas dan merobohkan pilar kemanusiaan. Sebaliknya, keberanian untuk menyuarakan kebenaran—meskipun getir—adalah investasi moral untuk masa depan yang lebih beradab.

Maka, mari kita nyalakan kembali suara nurani. Bukan untuk menjadi oposisi yang beringas, tetapi untuk menjadi warga yang sadar, bertanggung jawab, dan bermartabat. Karena bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh para pemimpin yang hebat, tetapi juga oleh rakyat yang tak gentar menyuarakan kebenaran, meski harus berjalan sendirian.

 

 

Follow WhatsApp Channel Koruptor.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 26 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ketua Umum PETIR Apresiasi Gerak Cepat Polsek Cilincing Ringkus Pelaku Pembunuhan

15 Maret 2026 - 02:36 WIB

Ketum Petir Alex Emanuel Kadju SH Sampaikan Duka Mendalam,Jenazah Yanto Nabuasa Diterbangkan Ke kupang

14 Maret 2026 - 23:39 WIB

Berkah Ramadhan Brimob Batalyon D Pelopor Membantu Pembangunan Jembatan Presisi Untuk Warga

25 Februari 2026 - 19:13 WIB

Sekitar 55 SSB Ikuti Liga PSSI Kabupaten Bekasi U-9 dan U-12 Tahun 2026

7 Februari 2026 - 17:57 WIB

Hasan Mizih: Jembatan Aspirasi Warga di Parlemen Desa Bantarjaya

2 Februari 2026 - 20:22 WIB

NETRAL ITU TERLARANG; Hukum di Ujung Senjata dari Melos hingga Venezuela.

11 Januari 2026 - 08:11 WIB

Trending di Opini